Perkembangan Blogger di Indonesia

Januari 13, 2009

Coretan Yang Bermakna Luas:
Blog bagi sebagian individu di anggap sesuatu yang “mahal” dalam artian apa yang mesti dibuat setelah memiliki account. dalam konteks ini banyak yang terdampar pada masalah content, apa yang harus di tulis atau apa yang harus di tampilakan, sehingga munculah para copy paste. Dari sini kita bisa melihat bagaimana sebenarnya perkembangan blogger di indonesia. Apakah dengan banyaknya account yang bermunculan??, Apakah dengan seberapa besar bobot content yang benar-benar hasil dari olah pikir yang tercecer melalui karakter dalam postingan??, atau ada hal lain yang lebih spesifik??… Kalau kita melihat dan menilai dari point pertama, sudah tentu perkembangan blogger di Indonesia cukup baik karena banyaknya account-account baru bermunculan, tetapi bagaimana dengan dengan bobot dan spesifikasi lain…!!
Kembali ke kalimat “Perkembangan”, kita menyatakan kalimat tersebut dari sudut seperti apa…Penilaian ini kembali kepada blogger, dari sisi mana mereka mulai menilai sebuah perkembangan!!
Dan disini saya tidak mencari justifikasi atas perkembangan tersebut..seperti motto blog saya “Hanya Sebuah Coretan”.

Blog merupakan sebuah media untuk menuangkan hasil karya tulisan atau coretan apapun yang di hasilkan dari letupan dalam pikiran melalui permainan jari di atas keyboard sehingga menghasilkan karakter-karakter yang tersusun rapih dan indah, baik berupa opini, kritikan bahkan cerita sejenis novel-humor. tetapi kita juga tidak bisa menghindari baghwa blog kadang dijadikan ajang adu bacot, hinaan, personal insult atau pemuatan content-content illegal. Secara gamblang blog yang berkembang saat ini ada yang bernilai positif dan negatif.
Ada beberapa wacana yang menyatakan bahwa blog bukanlah sebuah link yang dapat di percaya keabsahannya jika di dalam contentnya memuat sebuah berita yang berbau politik, ekonom, etc atau semacamnya, karena selama ini blog di anggap hanya sebuah journal pribadi, tempat untuk bebas berekspresi dalam berbagai bentuk. Tetapi jika kita melihat lebih luas, sebenarnya blog juga di pakai oleh para jurnalis, politikus, ekonom, etc dalam memberitakan opini-opini meraka yang sudah tentu berdasarkan hasil pertimbangan yang matang.

Blog tidak sesempit yang di bicarakan sealam ini, didalam blog ada proses interaksi antar individu [blogger]. bisa dikatakan “Blog is Monodualistik”, sebagai tempat menuangkan olah pikir juga sebagai media interaksi. Interaksi ini terbentuk antar bloger yang sering berlalu lalang di berbagai tautan dan meninggalkan jejak sehingga ada lacak balik dari blogger lainnya [kerennya sih ..blogwalking.. :P ], yang kalau di kehidupan nyata di sebut silahturahmi.
Ini berarti blog bukan sekedar media coretan, akan tetapi sudah berkembang ke hal yang lebih luas.

Sebagai individu yang suka nge-blog, saya melihat perkembangan blogger saat ini sudah cukup signifikan. tidak ada skala yang tetap dan spesifikasi dalam melihat hal tersebut. disini ini saya melihatnya dari sudut account yang bermunculan serta postingan yang terpajang dalam account mereka. Belum lagi di tambah dengan makin banyaknya komunitas-komunitas blog yang bermunculan, dimana keberadaan mereka tidak hanya sekedar menuangkan tulisan secara bersama-sama dalam sebuah account, akan tetapi ada hal lain dari sekedar menulis yang di implementasikan dalam kehidupan nyata, dalam bentuk yang berbeda, dan tetap mengatas namakan blog/blogger.
SUMBER :http://fritzinfo.wordpress.com/2008/05/22/perkembangan-blogger-di-indonesia/

perkembangan blogger di Indonesia

Januari 11, 2009

Coretan Yang Bermakna Luas:
Blog bagi sebagian individu di anggap sesuatu yang “mahal” dalam artian apa yang mesti dibuat setelah memiliki account. dalam konteks ini banyak yang terdampar pada masalah content, apa yang harus di tulis atau apa yang harus di tampilakan, sehingga munculah para copy paste. Dari sini kita bisa melihat bagaimana sebenarnya perkembangan blogger di indonesia. Apakah dengan banyaknya account yang bermunculan??, Apakah dengan seberapa besar bobot content yang benar-benar hasil dari olah pikir yang tercecer melalui karakter dalam postingan??, atau ada hal lain yang lebih spesifik??… Kalau kita melihat dan menilai dari point pertama, sudah tentu perkembangan blogger di Indonesia cukup baik karena banyaknya account-account baru bermunculan, tetapi bagaimana dengan dengan bobot dan spesifikasi lain…!!
Kembali ke kalimat “Perkembangan”, kita menyatakan kalimat tersebut dari sudut seperti apa…Penilaian ini kembali kepada blogger, dari sisi mana mereka mulai menilai sebuah perkembangan!!
Dan disini saya tidak mencari justifikasi atas perkembangan tersebut..seperti motto blog saya “Hanya Sebuah Coretan”.

Blog merupakan sebuah media untuk menuangkan hasil karya tulisan atau coretan apapun yang di hasilkan dari letupan dalam pikiran melalui permainan jari di atas keyboard sehingga menghasilkan karakter-karakter yang tersusun rapih dan indah, baik berupa opini, kritikan bahkan cerita sejenis novel-humor. tetapi kita juga tidak bisa menghindari baghwa blog kadang dijadikan ajang adu bacot, hinaan, personal insult atau pemuatan content-content illegal. Secara gamblang blog yang berkembang saat ini ada yang bernilai positif dan negatif.
Ada beberapa wacana yang menyatakan bahwa blog bukanlah sebuah link yang dapat di percaya keabsahannya jika di dalam contentnya memuat sebuah berita yang berbau politik, ekonom, etc atau semacamnya, karena selama ini blog di anggap hanya sebuah journal pribadi, tempat untuk bebas berekspresi dalam berbagai bentuk. Tetapi jika kita melihat lebih luas, sebenarnya blog juga di pakai oleh para jurnalis, politikus, ekonom, etc dalam memberitakan opini-opini meraka yang sudah tentu berdasarkan hasil pertimbangan yang matang.

Blog tidak sesempit yang di bicarakan sealam ini, didalam blog ada proses interaksi antar individu [blogger]. bisa dikatakan “Blog is Monodualistik”, sebagai tempat menuangkan olah pikir juga sebagai media interaksi. Interaksi ini terbentuk antar bloger yang sering berlalu lalang di berbagai tautan dan meninggalkan jejak sehingga ada lacak balik dari blogger lainnya [kerennya sih ..blogwalking.. :P ], yang kalau di kehidupan nyata di sebut silahturahmi.
Ini berarti blog bukan sekedar media coretan, akan tetapi sudah berkembang ke hal yang lebih luas.

Sebagai individu yang suka nge-blog, saya melihat perkembangan blogger saat ini sudah cukup signifikan. tidak ada skala yang tetap dan spesifikasi dalam melihat hal tersebut. disini ini saya melihatnya dari sudut account yang bermunculan serta postingan yang terpajang dalam account mereka. Belum lagi di tambah dengan makin banyaknya komunitas-komunitas blog yang bermunculan, dimana keberadaan mereka tidak hanya sekedar menuangkan tulisan secara bersama-sama dalam sebuah account, akan tetapi ada hal lain dari sekedar menulis yang di implementasikan dalam kehidupan nyata, dalam bentuk yang berbeda, dan tetap mengatas namakan blog/blogger.

perkembangan blogger di Indonesia

Januari 11, 2009

Coretan Yang Bermakna Luas:
Blog bagi sebagian individu di anggap sesuatu yang “mahal” dalam artian apa yang mesti dibuat setelah memiliki account. dalam konteks ini banyak yang terdampar pada masalah content, apa yang harus di tulis atau apa yang harus di tampilakan, sehingga munculah para copy paste. Dari sini kita bisa melihat bagaimana sebenarnya perkembangan blogger di indonesia. Apakah dengan banyaknya account yang bermunculan??, Apakah dengan seberapa besar bobot content yang benar-benar hasil dari olah pikir yang tercecer melalui karakter dalam postingan??, atau ada hal lain yang lebih spesifik??… Kalau kita melihat dan menilai dari point pertama, sudah tentu perkembangan blogger di Indonesia cukup baik karena banyaknya account-account baru bermunculan, tetapi bagaimana dengan dengan bobot dan spesifikasi lain…!!
Kembali ke kalimat “Perkembangan”, kita menyatakan kalimat tersebut dari sudut seperti apa…Penilaian ini kembali kepada blogger, dari sisi mana mereka mulai menilai sebuah perkembangan!!
Dan disini saya tidak mencari justifikasi atas perkembangan tersebut..seperti motto blog saya “Hanya Sebuah Coretan”.

Blog merupakan sebuah media untuk menuangkan hasil karya tulisan atau coretan apapun yang di hasilkan dari letupan dalam pikiran melalui permainan jari di atas keyboard sehingga menghasilkan karakter-karakter yang tersusun rapih dan indah, baik berupa opini, kritikan bahkan cerita sejenis novel-humor. tetapi kita juga tidak bisa menghindari baghwa blog kadang dijadikan ajang adu bacot, hinaan, personal insult atau pemuatan content-content illegal. Secara gamblang blog yang berkembang saat ini ada yang bernilai positif dan negatif.
Ada beberapa wacana yang menyatakan bahwa blog bukanlah sebuah link yang dapat di percaya keabsahannya jika di dalam contentnya memuat sebuah berita yang berbau politik, ekonom, etc atau semacamnya, karena selama ini blog di anggap hanya sebuah journal pribadi, tempat untuk bebas berekspresi dalam berbagai bentuk. Tetapi jika kita melihat lebih luas, sebenarnya blog juga di pakai oleh para jurnalis, politikus, ekonom, etc dalam memberitakan opini-opini meraka yang sudah tentu berdasarkan hasil pertimbangan yang matang.

Blog tidak sesempit yang di bicarakan sealam ini, didalam blog ada proses interaksi antar individu [blogger]. bisa dikatakan “Blog is Monodualistik”, sebagai tempat menuangkan olah pikir juga sebagai media interaksi. Interaksi ini terbentuk antar bloger yang sering berlalu lalang di berbagai tautan dan meninggalkan jejak sehingga ada lacak balik dari blogger lainnya [kerennya sih ..blogwalking.. :P ], yang kalau di kehidupan nyata di sebut silahturahmi.
Ini berarti blog bukan sekedar media coretan, akan tetapi sudah berkembang ke hal yang lebih luas.

Sebagai individu yang suka nge-blog, saya melihat perkembangan blogger saat ini sudah cukup signifikan. tidak ada skala yang tetap dan spesifikasi dalam melihat hal tersebut. disini ini saya melihatnya dari sudut account yang bermunculan serta postingan yang terpajang dalam account mereka. Belum lagi di tambah dengan makin banyaknya komunitas-komunitas blog yang bermunculan, dimana keberadaan mereka tidak hanya sekedar menuangkan tulisan secara bersama-sama dalam sebuah account, akan tetapi ada hal lain dari sekedar menulis yang di implementasikan dalam kehidupan nyata, dalam bentuk yang berbeda, dan tetap mengatas namakan blog/blogger.

ponsel sebagai budaya teknologi dan teknologi budaya

Januari 6, 2009

Ponsel Sebagai Teknologi Budaya dan, Budaya Teknologi
Ditinjau dari Perspektif Sosiologi
AGENDA
 ISTILAH
 PERKEMBANGAN PONSEL DAN TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI
 DAMPAK PONSEL DAN TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI TERHADAP BUDAYA
 REKOMENDASI
 SMART TELECOM
ISTILAH
• ISTILAH
• CIRI – CIRI BUDAYA
• WUJUD BUDAYA
• FUNGSI BUDAYA
• PENYEBAB PERUBAHAN BUDAYA
ISTILAH
 Komunikasi : peristiwa pertukaran informasi atau berita yang berjalan dan terus menerus
 4 komponen terjadinya komunikasi : Pengirim berita (sumber), Pihak yang menerima berita, Isi berita, dan Media penyampai (transmisi)
 Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk benda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistim kawat, optik, radio, atau sistim elektronik lainnya.
 Budaya adalah hasil karya cipta manusia yang diperoleh dari hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat
 Kebudayaan diciptakan dengan tujuan demi kepentingan dan peningkatan kesejahteraan hidup manusia

CIRI – CIRI BUDAYA
 Menyeluruh,
 Berkembang dalam ruang atau bidang
geografis tertentu dan
 Berpusat pada perwujudan nilai-nilai tertentu
WUJUD BUDAYA
• Ide dalam tata hidup,
• Tingkah laku dalam tata hidup,
• Produk sebagai:
 Ekspresi pribadi,
 Sarana hidup dan
 Nilai dalam bentuk lahir.
FUNGSI BUDAYA
 Mendasari, mendukung, dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat:
 Bertahan,
 Menggerakkan serta
 Membawa masyarakat kepada taraf hidup tertentu :
 hidup lebih baik,
 lebih manusiawi dan
 berperikemanusiaan.
PENYEBAB PERUBAHAN BUDAYA
Faktor Internal
• Bertambahnya atau
• Berkurangnya produk,
• Penemuan-penemuan baru (inovation),
• Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat (konflik) dan
• Adanya pemberontakan atau revolusi.

Faktor Eksernal
• Perubahan lingkungan fisik manusia (bencana alam),
• Pengaruh kebudayaan masyarakat lain dan
• Karena adanya peperangan.
PERKEMBANGAN PONSEL & TEKNOLOGI KOMUNIKASI

PERKEMBANGAN TELEPON DI INDONESIA
• 1974, TELKOM diberikan wewenang untuk menyelenggarakan Telekomunikasi untuk umum di Indonesia
• 1980, Indosat berdiri
• 1990, Berdirian perusahaan radio Panggilan
• 1995, Telkomsel berdiri sebagai perusahaan pertama seluler di Indonesia
• 2006, Smart Telecom berdiri sebagai perusahaan seluler CDMA 2000 1x terakhir di Indonesia

PERKEMBANGAN TELEPON DI INDONESIA

MOBILE BROADBAND SERVICE
– “Indonesia leads South East Asia” in adopting mobile broadband services
» Jumlah koneksi HSPA melebihi koneksi Fixed BB, 315,000 koneksi HSPA dibandingkan dg 300,000 koneksi fixed-broadband pada akhir 2007
» 5.5 juta pelanggan 3G (June 2008)
INTERNET
Indonesia – pengguna berat dari Mobile Internet
• Yahoo!Go
– # 1 in Asia
– # 3 Worldwide
• AdMob
– # 2 Worldwide
• myGamma
– # 1 Top ten list by advertising page view and percent year-on-year growth
• Opera Mini
– # 2 In Opera Mini worldwide traffic (63% traffic = social networking sites)
• Taptu
– In Taptu user base worldwide
BISNIS TELEKOMUNIKASI
– Dipengaruhi oleh:
– Regulasi
– Kemajuan Teknologi
– Permintaan Pelanggan
DAMPAK PONSEL & TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI TERHADAP
EKONOMI & BUDAYA
• PENGARUH TERHADAP EKONOMI
• TELEKOMUNIKASI & BUDAYA
• PENGARUH PADA BUDAYA SOSIAL
• PENGARUH PADA BUDAYA BIROKRAT
• PENGARUH PADA BUDAYA BISNIS
• PENGARUH PADA PENDIDIKAN
PENGARUH TERHADAP EKONOMI
• Pertumbuhan telekomunikasi sebesar 1% secara langsung atau tak langsung memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3% (ITU).
• Peningkatan aktivitas perdagangan akibat pertumbuhan telekomunikasi
• Penyerapan Tenaga Kerja ( padat karya )

TELEKOMUNIKASI & BUDAYA
• Internet pemicu antisocial behavior
– anonymous
– tidak bertatap muka secara langsung
• Budaya kita?
– tidak/kurang belajar dari sejarah
– suka jalan pintas PENGARUH PADA BUDAYA SOSIALAktor (means) pengubah dan sekaligus sebagai Sasaran (ends) dari perubahan
– Memudahkan aktivitas manusia
PENGARUH PADA BUDAYA SOSIAL
• Aktor (means) pengubah dan sekaligus sebagai Sasaran (ends) dari perubahan
• Memudahkan aktivitas manusia
• Penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial.
• Teknologi tepat guna menjadi tidak popular

PENGARUH PADA BUDAYA BIROKRAT
• Budaya terbuka
• Disiplin
• Lisan –> Tertulis
• Hirarki –> Jaringan
• Berbagi Informasi Gagap Teknologi
• Loncatan budaya
PENGARUH PADA BUDAYA BISNIS

• e-Biznis baru
• Pangsa Pasar baru
• Riset Pasar murah
• 24 jam /7 hari
• Ubiquitous: every one, every where & every time
• Gagap Teknologi
• Loncatan budaya
• Ancaman Global
PENGARUH PADA PENDIDIKAN
• Dampak Positif
– Perubahan sarana belajar
– Kemudahan mendapat informasi dan bahan belajar
• Munculnya sarana belajar online (e-learning)
– Luas jangkauan komunitas dan interaksi
• Knowledge sharing
– Peningkatan Social interactions, walaupun secara online
– Budaya dengar ke budaya menonton
• Sarana video, televisi
– Collaborative and participatory
– Belajar mandiri
• Dampak Negatif
– berkurangnya nilai kemanusiaan
• Jarangnya interaksi secara fisik
– ikatan emosi dan penghargaan kepada guru akan berkurang
– perubahan mental siswa karena pornografi melalui internet
REKOMENDASI
• D I K W
• PENERIMAAN TEKNOLOGI
• PERANAN PEMERINTAH RECOMENDASI
REKOMENDASI
• Telekomunikasi sebagai pemicu budaya perlu dicermati dengan bijaksana
• Peran Pemerintah dalam menciptakan regulasi yang benar, bijak, dan melindungi masyarakat
• Masyarakat sebagai konsumen perlu melakukan filter terhadap budaya teknologi telekomunikasi yang “tidak sesuai” dengan budaya Indonesia
SMART TELECOM
• Profil PT. Indoprima Mikroselindo (PRIMASEL)
• Paket Pascabayar Smart
• Paket Prabayar Smart
• IDD (01033)
• Smart M@il
• Smart Coverage
Profil PT. Indoprima Mikroselindo (PRIMASEL)
Memiliki Ijin Penyelenggaraan Telekomunikasi Bergerak Seluler dengan alokasi pita frekuensi 1903.125 – 1910 MHz berpasaangan dengan frekuensi 1983.125 – 1990 MHz (5 Carriers) berdasarkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 177/KEP/M.INFO/10/2006 tanggal 8 Desember 2006 dan beroperasi secara Nasional.

Mendapatkan ijin peggunaan kode akses 0881 & 0882 pada bulan Februari 2004
Penetapan SPC # 12 pada bulan Juli 2004
Penetapan MNC # 9 pada bulan Oktober 20005
Memiliki Ijin Stasiun Radio untuk BTS dalam rangka Komersial dan selanjutnya dalam rangka pengembangan BTS skala nasional.
Corporate Business Solution
Smart Telecom – Corporate Business Solution (CBS), adalah untuk melayani segmen pelanggan korporat. CBS mempunyai misi untuk melayani kebutuhan telekomunikasi baik data dan suara dengan cara memberikan solusi yang terbaik bagi pelanggan. CBS juga bisa memberikan solusi yang dapat disesuaikan (customize) dengan kebutuhan khusus yang dimiliki oleh pelanggan korporat.
Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, CBS Account Manager secara khusus melayani dan sekaligus berfungsi sebagai konsultan dalam memberikan solusi terbaik bagi berbagai masalah telekomunikasi yang dihadapi oleh pelanggan korporat. Juga terlibat aktif dalam memajukan usaha pelanggannya dengan cara memberi masukan, ide-ide untuk pengembangan bisnis dan memberikan komitmen yang tinggi atas kualitas produk serta layanan dari Smart Telecom.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CBS Account Manager kami.
Solusi CBS meliputi
1. Voice Services
2. Connectivity Services
3. Leveraging Services
Paket Pascabayar Smart
Keuntungan berlangganan Smart Pascabayar
• Gratis Kartu Perdana pascabayar
• Tarif terhemat untuk telepon dan SMS
• Tarif flat sejak menit pertama untuk percakapan lokal ataupun interlokal ke sesama smart maupun lintas operator.
• Paket istimewa Smart Pasca Bayar
Paket Prabayar Smart
Registrasi Prabayar
SMS ke 4444
Daftar*tipe dokumen (KTP/SIM/Passport)*nomor dokumen*
nama lengkap*jenis kelamin (L/P)*tempat lahir*tanggal lahir
(dd.mm.yyyy)*pekerjaan*alamat lengkap*kota
IDD (01033)
Nikmati komunikasi ke luar negeri dengan tarif yang hemat dengan menggunakan akses 01033 Smart untuk menghubungi nomor kantor, rumah atau ponsel di luar negeri menggunakan akses IDD 01033 Smart dengan tariff mulai dari Rp 1.000 per menit.
Cara menggunakan IDD 01033
Contoh untuk melakukan panggilan ke Singapura, tekan saja :
Smart M@il
• Smart M@il adalah layanan yang memungkinkan pelanggan Smart untuk mengakses mail secara mobile kapan saja dan di mana saja sejauh dalam jangkauan layanan data Smart dengan menggunakan fasilitas WAP yang terdapat dalam handset.

Melalui layanan Smart M@il, Anda akan menerima notifikasi (alert) melalui SMS jika ada e-mail baru yang masuk ke mailbox Anda.

Berikut adalah fitur-fitur yang terdapat dalam layanan Smart M@il:
1. Account email dengan kapasitas 30MB
2. Akses maksimum 2 email POP3/IMAP
3. Alert pada saat menerima email baru
4. Baca, tulis, balas dan meneruskan email
5. Membuka attachment gambar dan PDF
Biaya berlangganan Rp. 20.000,-/bulan (belum termasuk PPn) dan layanan ini hanya dapat berfungsi optimal bagi pelanggan yang memiliki handset dengan WAP browser (Haier D1200P, Nokia, dan lainnya).
Smart Coverage
Smart Telecom direncanakan akan beroperasi di seluruh wilayah Indonesia meliputi pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.
Berikut area-area jangkauan komunikasi Smart :
• + Java 1 : – Jakarta – Anyer – Bekasi – Bogor – Ciawi – Cikampek – Cikarang – Cilegon – Karawang – Merak – Pandeglang – Purwakarta – Serang – Tangerang
• + Java 2 : – Bandung – Banjar – Ciamis – Cianjur – Cimahi – Cipanas – Cirebon – Garut – Indramayu – Kuningan – Majalengka – Padalarang – Pangandaran – Pelabuhanratu – Soreang – Subang – Sukabumi – Sumedang
• + Java 3 : – Semarang – Banjarnegara – Banyumas – Blora – Boyolali – Brebes – Cilacap – Demak – Jepara – Karanganyar – Kebumen – Kendal – Kudus – Pati – Pekalongan – Pemalang – Purbalingga – Purwodadi – Purwokerto – Purworejo – Rembang – Salatiga – Solo – Sukoharjo – Tegal – Temanggung – Ungaran – Wonosobo – Yogyakarta – Bantul – Klaten – Magelang – Sleman – Wates – Wonogiri – Wonosari
• + Java 4 : – Surabaya – Bangkalan – Besuki – Blitar – Bojonegoro – Bondowoso – Gresik – Jember – Jombang – Kediri – Lamongan – Lumajang – Madiun – Magetan – Malang – Mojokerto – Nganjuk – Ngawi – Pamekasan – Pasuruan – Ponorogo – Probolinggo – Sidoarjo – Sumenep – Tuban – Tulungagung + Bali : – Denpasar – Bangli – Kuta – Nusa Dua – Sanur – Singaraja – Tabanan

Tantangan Perkembangan 3G

Desember 23, 2008

TAHUN 2005 masyarakat akan merasakan layanan teknologi komunikasi seluler generasi ketiga atau 3G (third generation). 3G menawarkan koneksi data nirkabel berkecepatan tinggi (broadband) dan aplikasi multimedia interaktif secara real time-misalnya video call/conference, video on demand, atau kendali jarak jauh-melebihi kemampuan GSM selama ini.

Dari sisi teknologi, 3G menarik dan menjanjikan. Namun, benarkah investasi 3G di Indonesia akan menuai sukses?

Pertanyaan muncul sejalan antusiasnya beberapa operator telekomunikasi, baik baru maupun lama, untuk mendapatkan lisensi 3G dari pemerintah. Operator yang “beruntung” mendapatkan izin adalah PT Cyber Access Communications (CAC) dan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS).

Keputusan pemberian lisensi malah menimbulkan “kecemburuan” di kalangan operator lama yang merasa lebih berhak mendapat lisensi 3G. Wajar saja mengingat pertimbangan pemerintah untuk menetapkan penyelenggara 3G terlihat kurang konsisten.

Pemerintah menunjuk CAC melalui beauty contest karena hanya mencari satu operator 3G yang benar-benar kredibel dalam membangun layanan seluler, baik dari kemampuan finansial maupun teknologi. Operator lama-jaringan tetap, jaringan bergerak seluler, atau jaringan bergerak satelit-tak akan diberi lisensi 3G.

Kritikan bahwa lisensi 3G tunggal cenderung mengarah pada praktik monopoli membuat pemerintah membukanya kembali. Hanya saja lisensi baru diberikan kepada NTS tanpa beauty contest, tapi penunjukan langsung.

Direktorat Pos dan Telekomunikasi serta anggota Komite Regulasi Telekomunikasi Indonesia (KRTI) merasa perlu melakukan “penyelamatan” terhadap NTS-dengan cara memberi lisensi 3G-karena nasib operator seluler tersebut “di ujung tanduk”. Hal yang patut dipertanyakan karena bagaimana mungkin sebuah keputusan strategis dan menentukan cetak biru pertelekomunikasian nasional dibuat atas dasar “belas kasihan”.

Apalagi lagi keputusan itu bertolak belakang dengan komitmen awal pemerintah untuk mendapatkan operator 3G yang tangguh. Kini pemerintah dan regulator semakin bingung untuk mengatur alokasi frekuensi 3G yang tinggal “sejengkal”, namun harus dibagi-bagi lagi kepada beberapa operator seluler eksisting yang juga menuntut lisensi 3G.

Walau demikian, kehadiran dua operator 3G itu membuat Indonesia termasuk ke dalam 35 negara dunia yang telah mengadopsi 3G melalui jalur WCDMA (wideband code division multiple access). Meski 3G secara global meraih pertumbuhan konsumen yang signifikan, operator 3G di Tanah Air mungkin tak mudah mendapatkan pelanggan.

Banyak tantangan yang menghadang, antara lain, pertama, deman komunikasi data masih rendah. Konsumen seluler yang menggunakan ponselnya untuk browsing internet masih sedikit.

Demam SMS dan MMS belum bisa mewakili kebutuhan komunikasi data kecepatan tinggi yang menjadi andalan 3G. Pasar seluler Indonesia masih didominasi layanan berbasis suara yang akan menyulitkan perkembangan 3G.

Kedua, tarif layanan akses data masih mahal, yang menghambat keinginan masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari internet. Ini tidak hanya terjadi pada koneksi data lewat dial up, ADSL, atau cable modem tetapi juga pada akses data nirkabel, khususnya seluler.

Operator 3G harus menjadi pelopor penyedia koneksi data murah jika ingin menarik perhatian. Layanan koneksi internet broadband atau percakapan tatap muka langsung menggunakan video call melalui ponsel pasti membutuhkan bandwidth yang besar. Dengan konsumsi bandwidth boros, tarif 3G harus terjangkau agar pelanggan seluler beralih ke 3G.

Ketiga, segmen 3G sangat terbatas. Angka 30 juta pelanggan seluler Indonesia bukan jaminan bahwa perkembangan 3G juga akan sepesat GSM.

Bisa diprediksikan, segmen pelanggan 3G akan lebih kecil daripada konsumen GSM sehingga operator 3G berharap banyak dari segmen anak muda dan komunitas yang “melek” teknologi. Asumsinya, perilaku segmen tersebut lebih mudah menyesuaikan dan menerima tawaran layanan data kecepatan tinggi dan multimedia interaktif.

Keempat, masih berkembangnya GPRS di teknologi 2,5G yang didukung tersedianya berjenis handset dan jaringan GSM yang menggurita, tak besar kemungkinan perpindahan (churn) pelanggan seluler GSM ke 3G. Apalagi beberapa operator CDMA (code division multiple access), baik fixed wireless maupun seluler, hadir di Indonesia. Teknologi CDMA2000-1X yang digunakan operator CDMA bisa dikategorikan sebagai 3G meski beda jalur dengan WCDMA yang jadi acuan operator GSM.

Kelima, content provider di Indonesia miskin kreativitas. Salah satu faktor yang membuat layanan data lewat seluler sulit berkembang di Indonesia adalah kurangnya content yang menarik dan dibutuhkan oleh konsumen. Operator 3G harus menawarkan content yang inovatif agar menjadi aplikasi yang disukai konsumen (killer application).

Sejumlah tantangan tadi harus disikapi operator 3G dengan visi dan strategi yang jelas. Hanya bermodal kecanggihan teknologi tidaklah cukup karena masyarakat selaku konsumen yang akan menilai mana layanan telekomunikasi yang dirasakan paling sesuai dan memberinya manfaat.

Sumber: kompas.com

Perkembangan Siaran Televisi Pendidikan di Indonesia

Desember 23, 2008

Pada awalnya adalah sebuah gagasan yang dikembangkan oleh Satuan Tugas Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Satgas TKPK) di bidang pengembangan siaran radio pendidikan pada tahun 1970-an. Satuan Tugas ini dipimpin oleh Yusufhadi Miarso selaku Deputi Bidang Media Pendidikan pada Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP)-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah melalui tahap perintisan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan guru-guru Sekolah Dasar (SD) melalui Siaran Radio (Diklat SRP) di Yogyakarta dan Semarang, maka model Diklat SRP ini disebarluaskan ke berbagai propinsi lainnya. Tidak hanya mengembangkan model Diklat SRP tetapi Satgas TKPK juga mengembangkan model pemanfaatan teknologi komunikasi untuk pendidikan luar sekolah (TKPLS) dan model pendidikan inovatif yang dikenal dengan SMP Terbuka.

Sasaran program TKPLS adalah masyarakat yang berminat mengembangkan potensi dirinya di bidang pengetahuan atau keterampilan untuk mengembangkan industri rumah tangga. Secara khusus, sasaran program TKPLS adalah masyarakat berpenghasilan rendah dan mereka yang mengikuti kegiatan pemberantasan buta aksara. Program-program pembaharuan (inovasi) di bidang media yang dikembangkan BPP melalui Satgas TKPK terlebih dahulu diujicobakan secara terbatas.

Setelah melalui tahap ujicoba atau perintisan, barulah program inovasi tersebut disebarluaskan ke berbagai propinsi. Mengingat belum adanya unit kerja yang secara khusus menangani inovasi atau pembaharuan di bidang pendidikan/pembelajaran, maka dipandang perlu untuk mendirikan satu unit kerja yang secara khusus menangani/mengelola berbagai pembaharuan/ inovasi di bidang pendidikan khususnya yang berkaitan dengan penerapan teknologi komunikasi.

Unit kerja baru yang didirikan adalah Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) yang berada langsung di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada awal berdirinya, Pustekkom mempunyai dengan 3 unit Balai Produksi Media yaitu Balai Produksi Media Radio (BPMR) di Yogyakarta dan Semarang serta Balai Produksi Media Televisi di Surabaya. Sedangkan di Pustekkom sendiri, ada 3 unit Studio Produksi yang terdiri atas: Studio Audio Pendidikan, Studio Televisi Pendidikan, dan Studio Foto-Film-Grafis.

Program Diklat SRP terus dikembangkan disertai dengan berbagai penyempurnaan dilakukan. Selain itu, Pustekkom juga mengembangkan program media film 16mm, bingkai suara (sound slide program), kaset audio, kaset video, permainan simulasi (simulation game), media overhead transparency (OHT), dan program siaran televisi pendidikan. Program Diklat SRP dan TKPLS disiarkan oleh Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Pemerintah Daerah (RPD), dan Radio Swasta Niaga. Sedangkan program media film pendidikan pertama yang diproduksi Pustekkom adalah bertemakan pengembangan watak anak dan ditayangkan melalui Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Pustekkom terus meningkatkan kualitas fasilitas/peralatan produksinya dan demikian juga dengan kemampuan stafnya. Melalui dukungan fasilitas dan staf yang berkualitas, Pustekkom telah berhasil memproduksi film serial pendidikan pertama yang berjudul “Aku Cinta Indonesia” (ACI). Yang menjadi sasaran dari film serial pertama ACI ini adalah anak-anak usia Sekolah Menengah tingkat Pertama (SMP). Film serial ACI ini ditayangkan setiap hari Minggu melalui stasiun TVRI.

Keberhasilan memproduksi film serial ACI pertama telah mendorong Pustekkom untuk memproduksi film serial ACI II (bertemakan pendidikan sejarah perjuangan bangsa) dan ACI III (bertemakan pengembangan kepribadian anak-anak usia Sekolah Menengah) yang juga ditayangkan oleh Stasiun TVRI setiap minggunya. Film serial ACI IV sebenarnya telah mulai diproduksi oleh Pustekkom untuk beberapa episode tetapi tidak berlanjut.

Dengan potensi yang dimiliki, Pustekkom merintis penyelenggaraan siaran televisi yang secara khusus menayangkan program pendidikan/pembelajaran melalui dukungan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Belanda dan Australia. Walaupun tenaga yang dibutuhkan untuk mengelola siaran televisi pendidikan telah dipersiapkan, program siaran telah mulai dikembangkan, sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan siaran televisi pendidikan/ pembelajaran telah juga dipersiapkan, namun program kerjasama ini tidak dapat dilanjutkan.

Tidak berlanjutnya program kerjasama dengan pemerintah Belanda dan Australia tidak menyurutkan semangat untuk dapat menyelengarakan siaran televisi secara khusus di bidang pendidikan/pembelajaran. Dalam kaitan ini, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjalin kerjasama dengan pihak swasta (PT Cipta Lamtoro Gung Persada) untuk pendirian satu stasiun pemancar televisi untuk pendidikan yang berskala nasional. Pada tahun 1991, secara resmi berdirilah stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) di mana Pustekkom mempunyai tugas untuk menyediakan program-program pendidikan/pembelajaran dan stasiun TPI bertugas menayangkannya.

Di dalam dokumen perjanjian kerjasama tersebut disebutkan antara lain bahwa (1) masa berlaku perjanjian kerjasama adalah untuk 15 (limabelas) tahun, (2) stasiun TPI berkewajiban mengalokasikan 16,6% dari seluruh jumlah jam siarannya untuk pendidikan sekolah dan 16,6% untuk pendidikan luar sekolah, dan (3) Pustekkom berkewajiban untuk menyediakan program-program pendidikan/pembelajaran, baik untuk pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Dalam perkembangannya, perjanjian kerjasama ini tidak dapat berlangsung sebagaimana yang telah disepakati.

Sekalipun terus terkendala gagasan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) melalui Pustekkom untuk dapat mengelola sendiri penyelenggaraan siaran televisi pendidikan, namun upaya tetap terus dilakukan. Upaya gigih ini akhirnya menuai hasil dengan dilakukannya pencanangan dimulainya penyelenggaraan siaran televisi edukasi (TVE). Siaran TVE tidak menggunakan jaringan teresterial tetapi melalui satelit Telkom 1. Itulah sebabnya bahwa siaran TVE tidak dapat ditangkap masyarakat luas apabila pesawat televisinya hanya dilengkapi dengan antena biasa. Diperlukan adanya antena parabola yang diarahkan pada posisi satelit Telkom 1.

Masyarakat yang mempunyai antena parabola dapat menangkap siaran TVE selama 24 jam dengan cara mengarahkan antena parabolanya ke satelit Telkom 1 dengan frekuensi: 3785 MHz; symbol rate: 4000; LNB/LO: 5150; Video PID: 0308; Audio PID: 0256; dan PCR PID: 8190.

Agar masyarakat luas dimungkinkan untuk menikmati siaran TVE, Depdiknas melalui Pustekkom menjalin kerjasama dengan stasiun TVRI dan berbagai stasiun TV lokal yang tersebar di berbagai daerah. Stasiun TVRI hanya menayangkan program pembelajaran untuk SMP pada pagi hari dimulai dari pukul 07.00 WIB-09.00 WIB dan disiar-ulangkan pada pukul 14.00 WIB-16.00 WIB. Sedangkan satsiun-stasiun TV lokal diatur secara tersendiri melalui Memorandum Kerjasama (MoU). Dari dokumen yang ada dikemukakan bahwa terdapat 61 stasiun televisi yang telah bekerjasama dengan Pustekkom untuk menerus-siarkan program-program pendidikan/pembelajaran yang ditayangkan TVE. Selain itu, kerjasama juga dijalin dengan berbagai operator TV Cable.

Komposisi program pendidikan/pembelajaran yang ditayangkan melalui siaran TVE adalah 20% untuk pendidikan formal, 30% untuk pendidikan non-formal, 30% untuk pendidikan informal, dan 20% untuk kepentingan informasi pendidikan. Yang menjadi sasaran dari program siaran TVE adalah (1) para peserta didik pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (2) para praktisi pendidikan, dan (3) masyarakat luas.

Sebagai stimulans, Pustekkom telah mendistribusikan pesawat televisi, antena parabola, DVD player, pembangkit tenaga listrik (genset) ke sekolah-sekolah melalui block-grant ke semua Dinas Pendidikan tingkat Propinsi. Diharapkan upaya ini akan dapat ditindaklanjuti oleh berbagai pihak sehingga para peserta didik dapat mengoptimalkan pemanfaatan siaran TVE untuk kepentingan pembelajaran. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai siaran TVE, website yang dapat dikunjungi adalah: http://www.tvedukasi.or.id

Konvergensi Media dan Teknologi

Desember 15, 2008

Konvergensi Teknologi

KEMAJUAN teknologi telekomunikasi beserta sistem jaringannya memang mengubah paradigma penting cara kita berkomunikasi. Sebagai pengguna awam teknologi, tidak penting apakah sambungan telepon jarak jauh maupun internasional itu menggunakan teknologi Voice over Internet Protocol atau menggunakan teknologi nirkabel, konsumen telekomunikasi akan selalu mencari alternatif termurah untuk menekan biaya percakapan teleponnya. Dan di sisi lain, perusahaan telekomunikasi sudah harus berbenah diri secepat mungkin agar tidak menjadi korban teknologi komunikasi informasi itu sendiri.

PERSOALANNYA, biaya telekomunikasi di Indonesia untuk berbagai keperluan baik di dalam kota, antarkota, dan internasional maupun seluler masih sangat mahal dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia.

Sementara para operator telekomunikasi incumbent, karena paling besar sering kali tidak menyadari bahwa konvergensi teknologi bukan hanya dimaksudkan sebagai kemampuan bertemunya mesin dengan mesin, tetapi juga memiliki nuansa pertemuan antara orang dan orang. Karena tidak ada yang bisa memperkirakan kemajuan teknologi seperti apa yang akan dihadapi dalam kurun waktu 3 bulan atau 1 tahun ke depan.

Salah satu kemajuan teknologi yang sangat “ditakuti” oleh para operator incumbent, khususnya PT Telkom, adalah perkembangan teknologi Voice over Internet Protocol (VoIP). Kehadiran teknologi VoIP membawa perubahan penting dan berakhirnya dominasi yang dikenal sebagai SLI dan SLJJ.

Ketika teknologi bagi disebut sebagai VoIP Merdeka yang dikembangkan komunitas di Indonesia dipelopori oleh Dr Onno W Purbo, incumbent dengan mudah berlindung di balik regulator dan perundangan telekomunikasi. Begitu juga dengan munculnya aplikasi VoIP seperti Skype (www.skype.com), semua mengira penggunaan teknologi ini hanya bisa digunakan dibalik komputer saja.

Padahal, ketika kita berbicara soal konvergensi, para insinyur di berbagai perusahaan teknologi komunikasi informasi berupaya keras untuk mencangkokkan kemudahan dan kemurahan yang ditawarkan dalam pembicaraan jarak jauh dengan kualitas suara yang semakin sempurna. Hasilnya, Motorola mengumumkan untuk mencangkokkan berbagai ponselnya dengan aplikasi Skype.

Tidak berbatas

Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi informasi ini seperti langit, tidak memiliki batas. Dan semangat ini dicerminkan Siemen asal Jerman yang memperkenalkan sistem DECT (Digital Enhanced Cordless Telephone) terbarunya, Gigaset S430, sebagai telepon nirkabel dalam ruangan.

Berbeda dengan sistem DECT ketika pertama kali diperkenalkan di pasaran (lihat Kompas 25/1/2002), Gigaset S430 ini tampil dengan monitor berwarna dan memiliki fitur tambahan yang tidak tersedia pada perangkat sebelumnya. Gigaset S430 memiliki fitur SMS, serta dari kejauhan perangkat teleponi nirkabel ini seperti sebuah ponsel layaknya. Desainnya sendiri juga sangat menarik, berwarna abu-abu dengan tombol-tombol yang futuristik dan memudahkan penggunanya.

Yang menarik dan bukti konvergensi tanpa batas ini adalah ketika Gigaset S430 berhubungan dengan perangkat Gigaset M34 USB yang dihubungkan ke komputer, dan S430 memiliki fitur teleponi internet menggunakan aplikasi Skype.

Kalau selama ini para pengguna Skype harus memakai mikrofon dan headphone untuk menjalankan aplikasi Skype di komputer, melalui perangkat M34 USB percakapan Skype sekarang bisa digunakan pada Gigaset S430. Adaptor USB (Universal Serial Bus) buatan Siemens ini memungkinkan untuk melakukan percakapan teleponi internet menggunakan Skype memanggil pengguna Skype lainnya atau panggilan SkypeOut yang memungkinkan melakukan panggilan teleponi ke jaringan tradisional.

Kualitas suara yang dihasilkan dalam menggunakan Gigaset S430 ini seperti kualitas suara ponsel seluler ketika menggunakan panggilan Skype. Yang menyenangkan dari penggunaan perangkat buatan Siemens ini adalah instalasinya yang sederhana, dan biaya teleponi yang murah ketika melakukan pembicaraan jarak jauh maupun internasional.

Suara nirkabel

Perangkat lain yang juga menghadirkan nuansa baru dalam teleponi internet adalah Prestige 2000W buatan ZyXEL Communications Corp asal Taiwan. Secara desain, Prestige 2000W (foto-foto kiri) mirip telepon nirkabel yang menggunakan jaringan telepon rumah.

Teleponi internet buatan ZyXEL ini memanfaatkan teknologi nirkabel 802.11b dengan kecepatan transfer data sampai 11 Mbps. Prosedur penggunaannya pun mudah, dimulai dengan memindai perangkat access point yang terhubung ke dalam sistem jaringan, menentukan alamat Internet Protocol (IP), menetapkan SIP (Session Initiation Protocol) yang mengatur protokol sinyal ketika terjadi pembicaraan, dan menetapkan nomor perangkat untuk identifikasi panggilan (seperti 100, 101, 102, dan seterusnya).

Perangkat ini memiliki tiga pilihan agar bisa menjalankan fungsi telepon internet, melalui IP tetap, melalui protokol dinamis DHCP (Dynamic Host Control Protocol), serta melalui koneksi dial-up PPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet). Memang untuk instalasi perangkat Prestige 2000W ini harus dilakukan oleh mereka yang mengerti sistem jaringan, dan menjadi tidak mudah untuk orang awam walaupun sudah mengikuti buku petunjuk.

Namun, setelah semua protokol terpasang secara benar, pembicaraan teleponi internet menjadi menyenangkan dan bebas pulsa selama 240 menit, waktu bicara yang dimungkinkan dengan daya tahan baterai perangkat ini.

Menggunakan tampilan LCD monochrome, Prestige 2000W juga memiliki fitur yang mirip sebuah ponsel, seperti penguncian tombol (keylock), serta kemampuan untuk bergetar pada saat ada panggilan masuk. Fitur lainnya, perangkat ini juga bisa berfungsi sebagai interkom, memungkinkan pemanggilan perangkat sejenis yang berada dalam satu sistem jaringan.

Salah satu kendala perangkat ini kalau digunakan untuk jarak jauh melintas beberapa sistem jaringan, perlu membuat sistem server gateway sendiri menggantikan posisi IP Telephony Service Provider yang tidak banyak tersedia di Indonesia. Namun, kalau Prestige 2000W digunakan oleh perusahaan yang memiliki kantor perwakilan tersebar di mana- mana, produk buatan ZyXEL ini menjadi solusi penghematan telekomunikasi penting untuk dipertimbangkan.

Loncatan jauh

Teleponi internet baik berupa aplikasi dalam komputer maupun perangkat keras yang berdiri sendiri akan menjadi tren penting mengawali perubahan telekomunikasi jarak jauh murah yang pasti tidak akan mudah diikuti para incumbent.

Penggelaran akses kecepatan tinggi seperti fasilitas broadband dengan sendirinya juga akan mendorong pertumbuhan teleponi internet. Pengguna teleponi internet akan menikmati harga rata (flat rate) jasa koneksi internet, dan tidak lagi berhadapan dengan struktur harga telekomunikasi hierarki yang diterapkan incumbent.

Beberapa tahun lalu (bahkan sampai sekarang) masih ada anggapan bahwa sistem telepon umum yang dikenal akan tetap berjaya, dan akan sulit untuk memasuki pasaran. Ketika teknologi VoIP Merdeka diperkenalkan, muncul kekhawatiran incumbent yang segera berlindung di balik pembuat regulasi membatasi jasa teleponi internet hanya diberikan kepada lima perusahaan saja, di antaranya dua perusahaan yang tidak dikenal berpengalaman di bidang telekomunikasi.

Kehadiran perangkat teleponi internet seperti Gigaset S430 dilengkapi dengan M34 USB serta ZyXEL Prestige 2000W merupakan sebuah loncatan penting dalam kemajuan konvergensi teknologi komunikasi informasi. Bahkan, sebuah loncatan yang mampu melampaui para pembuat peraturan dan para operator incumbent. (rlp)

Desember 15, 2008

Konvergensi Media dan Teknologi

Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi massa tradisional. Pada dataran praktis maupun teoritis, fenomena yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa konsekuensi penting. Di ranah praktis, konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka. Tidak kalah serius, konvergensi media memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya (Preston: 2001).
Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi
komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.
Pada aras teoritik, dengan munculnya media konvergen maka sejumlah pengertian mendasar tentang komunikasi massa tradisional terasa perlu diperdebatkan kembali. Konvergensi menimbulkan perubahan signifikan dalam ciri-ciri komunikasi massa tradisional atau konvensional. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demasssification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.
Dalam catatan McMillan (2004), teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu ketika internet muncul di penghujung abad ke-21, pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai ”alat” semata. Berbeda halnya sekarang, internet menjadi ”media” tersendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif. Sifat interactivity dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan potensi umpan balik (feedback), karena seorang khalayak pengakses media konvergen secara langsung memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan. Karakteristik komunikasi massa tradisional di mana umpan baliknya tertunda menjadi lenyap karena kemampuan interaktif media konvergen. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan baru di dalam melihat fenomena komunikasi massa. Disebabkan karena sifat interactivity media komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source
à message à channel à receiver à effect/feedback) komunikasi massa terasa kurang relevan lagi untuk media konvergen.
Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Di negara maju semacam Amerika sendiri terdapat tren menurunnya pelanggan media cetak dan naiknya pelanggan internet. Bahkan diramalkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang di negara tersebut masyarakat akan meninggalkan media massa tradisional dan beralih ke media konvergen. Jika tren-tren seperti itu merebak ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan menggantikan peran pers tradisional. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka.
Dari sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia industri komunikasi.
Tidak kalah pentingnya di dalam mempersiapkan sumber daya yang mampu merespon kebutuhan pasar ke depan adalah sektor pendidikan. Pendidikan sekarang harus mampu merespon tantangan perubahan yang salah satunya diakibatkan oleh merebaknya media konvergen. Terutama untuk jenjang pendidikan tinggi, diperlukan bukan saja kurikulum yang merangkum pelbagai aspek teknis mekanis teknologi komunikasi baru (ICT); melainkan juga perlu ditanamkan kaidah-kaidah profesional sehingga pada saatnya nanti para lulusan dapat berkarya di masyarakat secara etis dan bertanggung jawab.

Regulasi Konvergensi
Sifat alamiah perkembangan teknologi selalu saja mempunyai dua sisi, positif dan negatif. Di samping optimalisasi sisi positif, antisipasi terhadap sisi negatif konvergensi nampaknya perlu dikedepankan sehingga konvergensi teknologi mampu membawa kemaslahatan bersama. Pada aras politik ini diperlukan regulasi yang memadai agar khalayak terlindungi dari dampak buruk konvergensi media. Regulasi menjaga konsekuensi logis dari permainan simbol budaya yang ditampilkan oleh media konvergen. Tujuannya jelas, yakni agar tidak terjadi tabrakan kepentingan yang menjadikan salah satu pihak menjadi dirugikan. Terutama bagi kalangan pengguna atau publik yang memiliki potensi terbesar sebagai pihak yang dirugikan alias menjadi korban dari konvergensi media.
Persoalan pertama regulasi menyangkut seberapa jauh masyarakat mempunyai hak untuk mengakses media konvergen, dan seberapa jauh distribusi media konvergen mampu dijangkau oleh masyarakat. Problem mendasar dari regulasi konvergensi media dalam konteks ini terkait dengan seberapa jauh masyarakat mempunyai akses terhadap media konvergen dan seberapa jauh isi media konvergen dapat dianggap tidak melanggar norma yang berlaku. Kekhawatiran sebagian kalangan bahwa isi media konvergen pada bagian tertentu akan merusak moral generasi muda merupakan salah satu poin penting yang harus dipikirkan oleh para pelaku media konvergen.
Beberapa pertanyaan pokok yang harus dijawab terkait dengan isu regulasi media konvergen adalah; pertama, siapa yang paling berkewajiban untuk membuat format kebijakan yang mampu mengakomodasi seluruh kepentingan aktor-aktor yang telibat dalam konvergensi dan kedua adalah bagaimana isi regulasi sendiri mampu menjawab tantangan dunia konvergen yang tak terbendung. Pertanyaan terakhir ini menarik, karena perkembangan teknologi umumnya selalu mendahului regulasi. Dengan kata lain, regulasi hampir selalu ketinggalan jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi komunikasi.
Dalam hal penciptaan regulasi konvergensi media, institusi yang paling berwenang membuat regulasi adalah pemerintah atau negara. Cara pandang demikian dapat dipahami jika dilihat dari fungsi negara sebagai regulatory agent di dalam menjaga hubungan antara pasar dan masyarakat. Di satu sisi negara memegang kedaulatan publik dan di sisi lain negara mempunyai apparatus yang berfungsi menjaga efektif tidaknya sebuah regulasi. Gambaran ideal dari hubungan tiga aktor konvergensi (negara, pasar, masyarakat) ini mestinya berlangsung secara harmonis dan seimbang. Jangan sampai terdapat salah satu pihak yang mendominasi yang lain, misalnya media konvergen cenderung mendominasi masyarakat, sementara masyarakat tidak punya pilihan lain selain menerima apa adanya tampilan-tampilan yang ada pada media.
Membangun sebuah regulasi yang komprehensif dan berdimensi jangka panjang tentu saja bukan hal yang mudah. Bahkan dalam konteks perkembangan teknologi komunikasi yang makin cepat, regulasi yang berdimensi jangka panjang nampaknya hampir menjadi satu hal yang mustahil. Adagium tentang regulasi yang selalu ketinggalan dibandingkan perkembangan teknologi mesti disikapi secara bijak. Pasalnya, sebuah bangunan kebijakan selalu mengandung celah multiinterpretasi sehingga bisa saja hal itu dimanfaatkan untuk menampilkan citraan media yang luput dari tujuan kebijakan. Di sisi lain, pada saat sebuah kebijakan disahkan dan dicoba diimplementasikan, boleh jadi telah muncul varian teknologi baru yang tak terjangkau oleh regulasi tersebut. Ini tidak berarti bahwa pembuatan regulasi tak harus dilakukan, bagaimanapun regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar teknologi komunikasi baru tidak menjadi instrumen degradasi moral atau menjadi alat kelas berkuasa untuk menidurkan kesadaran orang banyak.
Regulasi tetap diperlukan untuk mengawal nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan antarmanusia itu sendiri. Beberapa isu menarik layak direnungkan dalam konteks penyusunan regulasi. Pertama adalah bagaimana pengambil kebijakan mendefinisikan batasan sektor-sektor yang akan dikenai kebijakan, misalnya saja soal hukum yang dapat dijalankan. Kedua bagaimana situasi pasar dan hak cipta diterjemahkan. Wilayah ini menyangkut soal self regulation dan kondisi standarisasi hak cipta. Ketiga, bagaimana soal akses pada jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji dalam hal ini. Keempat, akses pada spektrum frekuensi, kelima mengenai standar jangkauan atau sejauh mana media konvergen dapat dijangkau oleh khalayak serta apakah sebuah akses harus disertai dengan harga yang harus dibayar oleh khalayak. Dan terakhir menyangkut sejauh mana kepentingan khalayak diakomodasi oleh regulasi, misalnya sejauh mana freedom of speech dan kalangan minoritas benar-benar mendapat perlindungan dalam sebuah kebijakan.

Teknologi Internet dan Website

November 5, 2008

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sesuai dengan Perkembangan peradaban manusia, perkembangan cara penyampaian informasi (yang selanjutnya dikenal dengan istilah Teknologi Informasi) semakin mempunyai banyak cara. Mulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding gua, peletakan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti sampai diperkenalkannya dunia arus informasi yang kemudian dikenal dengan nama Internet.

Internet adalah sebuah dunia maya jaringan komputer (Interkoneksi) yang terbentuk dari milyaran komputer diseluruh dunia. Dimulai pada pertengahan tahun 70an pada masa perang dingin dan mencapai puncaknya pada tahun 1994, ketika interface grafis dan konten/isi dari jaringan tersebut diciptakan dan diperuntukan kepada masyarakat umum sehingga dapat dipergunakan secara lebih mudah. Internet memungkinkan kita untuk menghilangkan hambatan Jarak dan Waktu dalam mendapatkan Informasi. Dari segi ekonomi, Internet merupakan sebuah jawaban yang sangat efisien, efektif dan relatif murah jika dibandingkan dengan hasil yang akan didapat.

Internet merupakan teknologi informasi yang paling banyak digunakan. Bagi organisasi pemanfaatan teknologi internet , selain memudahkan dalam menyebarkan dan menerima informasi, teknologi internet juga dapat meningkatkan efisiensi dan kemampuan organisasi, mempercepat pengolahan data, meningkatkan kualitas informasi, memungkinkan pemanfaatan bersama informasi (data sharing).

Perkembangan Teknologi Informasi yang sedikit “ajaib” terutama dalam bidang Internet secara langsung mampu menggeser bahkan merubah sistem dan pola hidup manusia, perkembangan tersebut memicu munculnya aspek-aspek sosial yang dapat dikatakan baru, atau aspek-aspek sosial lama yang muncul dengan cara baru. Salah satu dari aspek tersebut antara lain Setelah berkembangnya Internet, sumber Informasi menjadi lebih beragam dan luas. Jarak dan Waktu bukan lagi kendala yang utama. yaitu munculnya sistem pembelian dan pembayaran On-line, mengadakan rapat secara bersamaan dan langsung dari berbagai tempat, perubahan dalam bidang hukum dan perundangan, pertukaran dan asimilasi nilai-nilai budaya yang cepat sampai Carding, Hacker, Cracker; bahkan Pornografi.

Perubahan nilai yang muncul dari aspek sosial internet menuntut pergerakan dengan cepat menyiapkan infrastruktur dan faktor-faktor yang bersangkutan dengan bidang tersebut, atau akan tertinggal, karena Internet merupakan salah satu jembatan penting untuk masuk dalam kancah dunia.

Sejak diperkenalkannya kepada dunia pada tahun 1972-1973, penggunaan Internetpun meluas tidak hanya pada kalangan khusus (militer pada saat itu) saja. Seiring dengan perkembangannya jaman, orang-orang yang memanfaatkan Internet membuat sebuah sistem yang memudahkan peng-akses-an internet oleh masyarakat luas. Sistem ini juga memungkinkan adanya peluang bisnis dalam bidang ini. Hal ini ditandai dengan didirikannya provider (penyedia layanan) internet sampai warnet (warung internet).

Karena besarnya kemampuan yang dimiliki dunia Internet, bermacam- macam pula bentuk kejahatan dan penyimpangan yang terjadi. Oleh karena itu, disusunlah sebuah peraturan yang membatasi pergerakan para ‘penjahat Internet’ sekaligus untuk memberikan rasa aman pada pengguna internet lainnya. Peraturan tentang Internet di Indonesia dijelaskan melalui Undang-Undang No.36 tahun1999 dan Peraturan Pemerintah No. 52 tahun 2000.

Dengan banyaknya jenis layanan informasi yang disediakan oleh dunia internet, maka bentuk-bentuk kejahatan maupun tindakan-tindakan amoral dalam kemasan baru pun lahir.

Jika dunia seluler dikenal istilah 3G, maka di Internet ada yang namanya Web 3.0. Apa bedanya dengan Web 2.0 yang sekarang sedang marak? Jangan salah, ternyata orang Indonesia juga sudah ada yang mengembangkannya. Situs web (website) dan electronic mail merupakan layanan internet yang paling populer. Saat ini berbagai macam situs web telah membanjiri dunia internet. Mulai dari situs yang bersifat pribadi (blogger) maupun sifatnya institusional (official web). Peningkatan situs web yang demikian pesat menimbulkan pertanyaan “apakah pemanfaatan internet menjadi kebutuhan atau hanya mengikuti trend”. Saat ini kita memasuki generasi kedua dari website atau disebut dengan web 2.0. Pada generasi sebelumnya yaitu web 1.0 memiliki ciri-ciri umum yang mencolok yaitu consult, surf dan search. Jadi pada jaman web 1.0 kita kebanyakan hanya sekedar mencari atau browsing untuk mendapatkan informasi tertentu.

Kemudian hadir web 2.0 untuk menggantikan Web 1.0 dimana interaksi sosial di dunia maya sudah menjadi kebutuhan sehingga era Web 2.0 ini memiliki beberapa ciri mencolok yaitu share, collaborate dan exploit. Di era Web 2.0 sekarang, penggunaan web untuk berbagi, pertemanan, kolaborasi menjadi sesuatu yang penting. Web 2.0 hadir seiring maraknya pengguna blog, Friendster, Myspace, Youtube dan Fickr. Jadi disini kehidupan sosial di dunia maya benar-benar terasa.

Era Web 2.0 tidak membutuhkan orang jenius yang hanya berkutat sendiri di ruang tertutup atau laboratorium untuk membuat teknologi. Tapi era ini lebih membutuhkan orang untuk saling berbagi ilmu, pengalaman atau lainnya sehingga terbentuk komunitas online besar yang menghapuskan sifat-sifat individu.

Namun lambat laun kebiasaan dan kebutuhan orang di dunia maya selalu berubah dan bertambah. Hal ini juga sejalan dengan semakin cepatnya akses internet broadband dan teknologi komputer yang semakin canggih. Teknologi web generasi ketiga ini merupakan perkembangan lebih maju dari Web 2.0 dimana disini web seolah-olah sudah seperti kehidupan di alam nyata. Web 3.0 memiliki ciri-ciri umum seperti suggest, happen dan provide.

Jadi, disini web seolah-olah sudah seperti asisten pribadi kita. Web mulai mengerti kebutuhan kita dengan bisa memberi saran atau nasehat kita, menyediakan apa yang kita butuhkan. Dengan menggunakan teknologi 3D animasi, kita bisa membuat profil avatar yang sesuai dengan karakter, kemudian melakukan aktivitas di dunia maya seperti layaknya di dunia nyata. Kita bisa berjalan-jalan, pergi ke mall, bercakap-cakap dengan teman yang lain. Ya, Web 3.0 adalah dunia virtual kita.

Di web 3.0 ini, sudah terjadi konvergensi yang sangat dekat antara dunia TI dengan dunia telekomunikasi. Dunia web dan telco berkembang pesat seiring dengan kebutuhan pengguna. Penggunaan perangkat TI dan telekomunikasi nantinya sudah seperti sama saja tidak ada bedanya. Saat ini saja pertanda seperti itu sudah mulai bisa kita rasakan walaupun masih belum sempurna. Kita bisa menonton tv di ponsel atau komputer, bisa mengakses internet di ponsel, bisa melakukan SMS dan telepon dari komputer. Ya karena konvergensi terhadap berbagai perangkat seperti hukum alam yang tidak bisa dielakkan. Semua mengalami evolusi menuju dunia yang lebih maju.

Di ambil dari : netsains.com/2007/07/setelah-web-20-kini-giliran-web-30/ – 55k -

diy.imm.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=38&Itemid

asepmuhsin.wordpress.com/2007/08/18/teknologi-informasi-2/ – 37k –

TRANSPORTASI MELALUI SERAT OPTIK (FIBER OPTIC)

November 5, 2008

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-priority:99; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-style-priority:99; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Fiber optik adalah sebuah kaca murni yang panjang dan tipis serta berdiameter sebesar rambut manusia. Dan dalam pengunaannya beberapa fiber optik dijadikan satu dalam sebuah tempat yang dinamakan kabel optik dan digunakan untuk mengantarkan data digital yang berupa sinar dalam jarak yang sangat jauh.

BAGAIMANA FIBER OPTIK BEKERJA?

Kira-kira lebih dari 20 tahun yang lalu, kabel serat optik (Fiber Optic) telah memngambil alih dan mengubah wajah teknologi industri telepon jarak jauh maupun industri automasi dengan pengontrolan jarak jauh. Serat optik juga memberikan peranan membuat Internet dapat digunakan di seluruh dunia. Ketika serat optik menggantikan tembaga (copper) sebagai long distance calls maupun internet traffic yang secara tidak langsung berdampak pd penurunan biaya produksi. Untuk memahami bagaimana sebuah kabel serat optik bekerja, sebagai contoh coba bayangkan sebuah sedotan plastik atau pipa plastik panjang fleksible berukuran besar. Bayangkan pipa tersebut mempunyai panjang seratus meter dan anda melihat kedalam dari salah satu sisi pipa. Seratus meter di sebelah sana seorang teman menghidupkan lampu senter dan diarahkan kedalam pipa. Dikarenakan bagian dalam pipa terbuat dari bahan kaca sempurna, maka cahaya senter akan di refleksikan pada sisi yang lain meskipun bentuk pipa bengkok atau terpilin masih dapat terlihatpantulan cahaya tersebut pada sisi ujungnya. Jika misalnya seorang teman anda menyalakan cahaya senter hidup dan mati seperti kode morse, maka anda dan teman anda dapat berkomunikasi melalui pipa tersebut. Seperti itulah prinsip dasar dari serat optik atau yang biasa dikenal dengan nama fiber optic cable.

Sebuah kabel fiber optik terbuat dari serat kaca murni, sehingga meskipun kabel mempunyai panjang sampai beratus2 meter, cahaya masih dapat dipancarkan dari ujung ke ujung lainnya. Helai serat kaca tersebut didesain sangat halus,ketebalannya kira-kira sama dengan tebal rambut manusia. Helai serat kaca dilapisi oleh 2 lapisan plastik (2 layers plastic coating) dengan melapisi serat kaca dengan plastik, akan didapatkan equivalen sebuah cermin disekitar serat kaca. Cermin ini menghasilkan total internal reflection (refleksi total pada bagian dalam serat kaca). Sama seperti jika kita berada pada ruangan gelap dengan sebuah jendela kaca, kemudian anda mengarahkan cahaya senter 90 derajat tegak lurus dengan kaca , maka cahaya senter akan tembus ke luar ruangan. Akan tetapi jika cahaya senter tersebut diarahkan (ke jendela berkaca) dengan sudut yang rendah (hampir paralel dengan cahaya aslinya), maka kaca tersebut akan berfungsi menjadi cermin yg akan memantulkan cahaya senter ke dalam ruangan. Demikian pada serat optik, cahaya berjalan melalui serat kaca pada sudut yang rendah.

PENERAPAN PADA FIBER OPTIK

Hingga saat ini, teknologi komunikasi informasi digunakan juga dalam bidang kesehatan yang disebut dengan telemedicine. Bisnis sudah banyak menggunakan telekonferensi. Dalam bidang pendidikan, televisi dan TV kabel juga digunakan, juga di masa depan surat elektronik atau surat suara, konferensi para orangtua dan para guru mungkin akan lebih sering lagi.

Penerapan kemajuan teknologi dapat pula mengintensifkan selektivitas khalayak komunikasi  massa. Sebaliknya, teknologi juga telah memungkinkan media massa untuk menjadi lebih selektif. Misalnya dalam bidang penerbitan, buku-buku sekarang dapat dicetak bila diperlukan, dengan beberapa bagian ditambahkan aatau dibuang, sesuai dengan permintaan pembaca.

Penerapan fiber optik diperkirakan dapat mereduksi kesenjangan penggunaan teknologi dimasyarakat. Dari sana akan dapat ditingkatkan jumlah pemakaian alat-alat audio, video, dan data komputer. Lewat pendidikan interaktif melalui video dan jaringan komputer akan mungkin bagi jaringan fiber optik untuk meningkatkan tingkat pendidikan di pedesaan dan mengembangkan banyak kota kecil. Namun demikian dikhawatirkan jaringan serat optik yang begitu mahal dapat menciptakan kaum elit TI yang tidak mengindahkan masyrakat dalam wilayah yang tidak terlayani teknologi itu. Tesis teknologi komunikasi dapat mempersatukan masyarakat, justru kembali perlu dipertanyakan.

Komunikasi adalah kebutuhan mendasar manusia. Dengan teknologi komunikasi yang baru telah banyak meningkatkan komunikasi antar budaya. Orang-orang dapat berkomunikasi, mengenal dan mengetahui berbagai macam budaya bangsa dengan mudah dan cepat.

Menurut Buck (1988): mengungkapkan bahwa media massa memungkinkan komunikasi emosional spontan untuk pertama kalinya dan bahwa media dengan kehadirannya boleh jadi menciptakan komunitas global. Namun, menurut pada sejarah peradaban manusia yang lama dengan teknologi komunikasi mulai dari mesin cetak dan telepon justru menimbulkan kekacauan bahkan mengancam kehidupan normal kehidupan manusia.

Dalam memproduksi informasi, media massa tetap harus memperhatikan kondisi komunikasi sebagai sasarannya (dalam hal ini adalah masyarakat). Media yang ingin berhasil menyampaikan pesan dengan tepat kepada media harus benar-benar mengenal masyarakat yang dituju. Tanpa itu media tak akan berari apa-apa di mata masyarakat. Oleh sebab itu media berperan sangat besar dalam menentukan apa yang diinginkan oleh masyarakat dan juga sebaliknya. Seperti teori Agenda Setting dan Hipodermic Needle, di mana pesan sangat berpengaruh kepada masyarakat sebagai komunikannya. Jadi, masyarakat adalah objek media itu sendiri, bukan subjek. Inilah juga yang merangsang pengembang dan ilmuwan untuk mengembangkan teknologi informasi yang pesat dan selalu canggih.

Di ambil dari :

http://ewijaya.wordpress.com/2007/09/25/bagaimana-fiber-optic-bekerja/

http://dictum4magz.wordpress.com/2008/01/20/pengaruh-media-terhadap-masyarakat-dalam-kaitannya-dengan-perkembangan-teknologi-komunikasi/


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.